Hakikat Doa
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Para hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Hari ini kita akan membahas tentang sebuah
tema yang sangat fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu hakikat doa.
Doa bukanlah sekadar ritual atau kebiasaan, melainkan inti dari hubungan kita
dengan Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta.
"Jangan bergembira karena doa-doamu dikabulkan, engkau bisa terjebak dalam kelompok orang yang terhijab. Bergembiralah karena engkau ditakdirkan bisa bermunajat kepada-Nya.
Doa merupakan wujud penghambaan seseorang
kepada Allah. Sebab itu, penting menghadirkan sifat-sifat kemanusiaan pada diri
seorang hamba kepada Allah, Sang Pencipta.
Semakin seorang menjadikan dirinya hamba yang rendah dan pasrah dihadapan Allah semakin Allah angkat derajatnya karena kemulian tertinggi seseorang adalah ketika dirinya diakui sebagai hamba Allah sehingga pantas Allah menggunakan lafadz abdun ketika perjalanan isra mi’rajnya Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam.
Doa itu bukan sekadar soal permintaan, tapi ketertundukan diri, merasa butuh pada-Nya, dan merasakan kehadiran-Nya. Dikabulkan doa bukan untuk dipamerkan apalagi menepuk dada. Belum diterimanya doa, bukan karena Tuhan tidak ridho, tetapi Allah ingin melihat kesabaran kita, dan ketundukan kita dalam doa."
Definisi dan Hakikat Doa
Imam Ibnu Manzhur dalam kitabnya
"Lisan al-Arab" mendefinisikan doa sebagai:
الدعاء: الرغبة إلى الله عز وجل
"Doa adalah keinginan (permohonan)
kepada Allah 'Azza wa Jalla."
Sementara itu, Imam Al-Khattabi dalam
kitabnya "Sya'n Ad-Du'a" memberikan definisi yang lebih komprehensif:
الدعاء هو استدعاء العبد ربه العناية،
واستمداده إياه المعونة، وحقيقته إظهار الافتقار إليه، والتبرؤ من الحول والقوة،
وهو سمة العبودية، واستشعار الذلة البشرية، وفيه معنى الثناء على الله عز وجل،
وإضافة الجود والكرم إليه
"Doa adalah permintaan seorang hamba
kepada Tuhannya akan perhatian dan pertolongan-Nya. Hakikatnya adalah
menampakkan kebutuhan kepada-Nya, berlepas diri dari daya dan kekuatan, yang
merupakan tanda penghambaan, merasakan kelemahan manusiawi, dan di dalamnya
terkandung makna pujian kepada Allah 'Azza wa Jalla, serta penisbatan
kedermawanan dan kemuliaan kepada-Nya."
Dari definisi-definisi ini, kita dapat
memahami bahwa doa bukan hanya sekadar permintaan, tetapi merupakan pengakuan
akan kelemahan kita sebagai makhluk dan pengakuan akan kekuasaan mutlak Allah
SWT.
Dalil-dalil tentang Doa
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah
Al-Baqarah ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي
وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Ayat ini menunjukkan kedekatan Allah dengan
hamba-Nya dan janji-Nya untuk mengabulkan doa. Namun, perhatikan syarat yang
disebutkan: memenuhi perintah Allah dan beriman kepada-Nya.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam
At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
"Doa adalah inti ibadah."
Hadits ini menegaskan posisi doa yang
sangat tinggi dalam Islam, bahkan disebut sebagai inti dari ibadah itu sendiri.
Keutamaan dan Manfaat Doa
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam
kitabnya "Al-Jawab Al-Kafi" menyebutkan beberapa keutamaan doa:
ومن فوائد الدعاء أنه يدفع غضب الرب تعالى، ويجلب رضاه، ويدفع البلاء،
ويرفع الوباء، ويكشف الكرب، ويجلب الرزق
"Di antara manfaat doa adalah menolak
murka Allah Ta'ala, mendatangkan ridha-Nya, menolak bala, mengangkat wabah,
menyingkap kesusahan, dan mendatangkan rezeki."
Beliau juga menambahkan:
الدعاء من أنفع الأدوية، وهو عدو البلاء،
يدافعه ويعالجه، ويمنع نزوله، ويرفعه أو يخففه إذا نزل، وهو سلاح المؤمن
"Doa termasuk obat yang paling
bermanfaat. Ia adalah musuh bala, menolaknya, mengobatinya, mencegah turunnya,
mengangkatnya atau meringankannya jika telah turun. Doa adalah senjata orang
mukmin."
Bentuk-bentuk pengabulan doa
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
"مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ
رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ
لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ
يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا"
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu
'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah
seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak
memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan memberinya dengan doanya itu
salah satu dari tiga hal: adakalanya dipercepat untuknya doanya (di dunia),
adakalanya disimpan untuknya (pahalanya) di akhirat, dan adakalanya dihindarkan
darinya keburukan yang semisalnya."
Hadits ini menjelaskan bahwa pengabulan doa
tidak selalu dalam bentuk yang kita inginkan atau bayangkan. Allah SWT dalam
kebijaksanaan-Nya mungkin mengabulkan doa kita dengan cara yang berbeda:
1. Mengabulkan doa secara langsung sesuai
permintaan.
2. Menyimpan pahala doa tersebut untuk
diberikan di akhirat.
3. Menghindarkan kita dari suatu keburukan
sebagai ganti dari permintaan kita.
Hadits lain yang juga relevan adalah yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا
يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ
مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ" قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟
قَالَ: "يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي
فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ"
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Doa seorang
hamba senantiasa dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk suatu dosa atau
memutuskan hubungan kekeluargaan, dan selama ia tidak tergesa-gesa."
Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan
tergesa-gesa?" Beliau menjawab, "Ia berkata, 'Aku telah berdoa dan
telah berdoa, tetapi aku tidak melihat doaku dikabulkan.' Lalu ia merasa kecewa
karena hal itu dan meninggalkan doa."
Hadits ini mengingatkan kita untuk tidak
tergesa-gesa dalam menilai apakah doa kita dikabulkan atau tidak. Allah SWT
memiliki rencana terbaik untuk kita, dan pengabulan doa mungkin datang dalam
bentuk yang tidak kita duga atau pada waktu yang tidak kita perkirakan.
Kedua hadits ini mengajarkan kita untuk
tetap bersabar, terus berdoa, dan meyakini bahwa Allah SWT selalu mendengar dan
mengabulkan doa kita dengan cara yang terbaik menurut-Nya.
Kisah-kisah Inspiratif tentang Kekuatan Doa
1. Kisah Nabi Yunus AS
Allah SWT menceritakan dalam Al-Qur'an
Surah Al-Anbiya ayat 87-88:
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا
فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ
إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ﴿٨٧﴾ فَاسْتَجَبْنَا
لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ ﴿٨٨﴾
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun
(Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami
tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang
sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah
memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah
Kami selamatkan orang-orang yang beriman."
Kisah ini menunjukkan bagaimana doa Nabi
Yunus AS di dalam perut ikan paus menjadi sarana keselamatannya.
2. Kisah Maryam binti Imran
Allah SWT mengisahkan dalam Surah Ali Imran
ayat 37:
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ
وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ
عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ
أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ
مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Maka Tuhannya menerimanya (sebagai
nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik
dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk
menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata:
"Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam
menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi
rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab."
Kisah ini menunjukkan bagaimana Allah
mengabulkan doa dan memelihara Maryam dengan cara yang luar biasa.
Doa dalam Konteks Ilmiah Modern
Menariknya, konsep doa dalam Islam memiliki
kemiripan dengan beberapa teori psikologi modern dan fenomena yang saat ini
populer, seperti afirmasi positif dan Law of Attraction.
1. Afirmasi Positif
Dalam psikologi, afirmasi positif adalah
pernyataan positif yang diulang-ulang untuk memperkuat pola pikir dan perilaku
yang diinginkan. Hal ini mirip dengan konsep doa dalam Islam, di mana seorang
Muslim dianjurkan untuk terus-menerus berdoa dan mengingat Allah (dzikir).
Imam An-Nawawi dalam kitabnya
"Al-Adzkar" mengatakan:
اعلم أن فضيلة الذكر غير منحصرة في التسبيح
والتهليل والتحميد والتكبير ونحوها، بل كل عامل لله تعالى بطاعة فهو ذاكر لله
تعالى
"Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir
tidak terbatas pada tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sejenisnya. Bahkan,
setiap orang yang beramal untuk Allah Ta'ala dengan ketaatan, maka dia adalah
orang yang berdzikir kepada Allah Ta'ala."
Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, setiap
tindakan positif yang dilakukan dengan niat ibadah bisa dianggap sebagai bentuk
doa atau dzikir, mirip dengan konsep afirmasi positif dalam psikologi modern.
2. Law of Attraction
Law of Attraction atau Hukum Tarik-Menarik
adalah konsep yang menyatakan bahwa pikiran positif akan menarik hal-hal
positif ke dalam hidup seseorang. Meskipun konsep ini sering dikritik karena
kurangnya dasar ilmiah, ada beberapa kemiripan dengan ajaran Islam tentang
husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allah.
Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ
عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ
ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ
خَيْرٍ مِنْهُمْ
"Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai
dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.
Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia
mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku mengingatnya dalam kumpulan yang lebih
baik daripada mereka."
Hadits ini mengajarkan bahwa berprasangka
baik kepada Allah dan selalu mengingat-Nya akan membawa kebaikan. Namun,
perbedaan mendasarnya adalah bahwa dalam Islam, segala kebaikan datang atas
izin Allah, bukan semata-mata karena "hukum alam" seperti yang
diklaim oleh Law of Attraction.
Adab dan Tatacara Berdoa
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam
kitabnya "Al-Wabil As-Shayyib" menyebutkan beberapa adab berdoa:
1. Memilih
waktu yang tepat, seperti sepertiga malam terakhir, saat sujud, antara adzan
dan iqamah, dan saat turun hujan.
2. Menghadap
kiblat dan mengangkat tangan.
3. Merendahkan
diri dan khusyuk.
4. Memulai doa
dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
5. Berdoa
dengan yakin akan dikabulkan.
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam
Surah Al-A'raf ayat 55:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
Doa adalah jembatan komunikasi antara
manusia dan Allah SWT. Ia bukan hanya ritual, tetapi merupakan pengakuan akan
kelemahan kita sebagai makhluk dan keyakinan akan kekuasaan mutlak Allah. Dalam
konteks modern, kita dapat melihat kemiripan antara konsep doa dalam Islam
dengan beberapa teori psikologi, namun tetap dengan perbedaan fundamental bahwa
dalam Islam, segala kebaikan datang atas izin Allah.
Imam Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam
kitabnya "Al-Hikam" mengatakan:
لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء
موجباً ليأسك، فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فيما تختار لنفسك، وفي الوقت
الذي يريد لا في الوقت الذي تريد
"Janganlah tertundanya pemberian
setelah engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menjadi sebab keputusasaanmu.
Sesungguhnya Allah telah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia
pilihkan untukmu, bukan apa yang engkau pilih untuk dirimu sendiri, dan pada
waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan."
Hikmah ini mengajarkan kita untuk tetap
optimis dan sabar dalam berdoa, meskipun kita merasa doa kita belum terkabul.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita, dan waktu yang tepat untuk
mengabulkan doa kita.
Fenomena Doa dan Kesehatan Mental
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak
penelitian ilmiah telah dilakukan untuk mempelajari hubungan antara
spiritualitas, termasuk doa, dengan kesehatan mental. Sebuah studi yang
dipublikasikan dalam Journal of Religion and Health pada tahun 2018
menemukan bahwa praktik keagamaan, termasuk doa, berkorelasi positif dengan
kesejahteraan psikologis.
Dr. Harold G. Koenig, seorang profesor
psikiatri di Duke University Medical Center, dalam bukunya "Religion
and Mental Health: Research and Clinical Applications" menyatakan:
"Penelitian menunjukkan bahwa
keyakinan dan praktik keagamaan dapat membantu orang mengatasi stres,
kecemasan, dan depresi. Doa, secara khusus, dapat memberikan rasa kedamaian dan
tujuan hidup."
Ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam
Surah Ar-Ra'd ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم
بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Doa dan Neuroplastisitas
Konsep neuroplastisitas dalam ilmu saraf modern menunjukkan bahwa otak kita dapat berubah dan membentuk koneksi baru sepanjang hidup kita. Dr. Andrew Newberg, seorang ahli neurotheology dari Thomas Jefferson University, dalam penelitiannya menemukan bahwa praktik spiritual, termasuk doa, dapat mengubah struktur dan fungsi otak secara positif.
Ini mengingatkan kita pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
"Sesungguhnya Allah berfirman melalui lisan Nabi-Nya: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku."
Hadits ini bisa dipahami bahwa dengan terus-menerus berprasangka baik kepada Allah melalui doa, kita sebenarnya sedang membentuk pola pikir positif yang dapat mempengaruhi struktur otak kita.
Doa dan Resiliensi
Resiliensi, atau kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan, adalah konsep penting dalam psikologi positif. Dr. Martin Seligman, bapak psikologi positif, dalam bukunya "Flourish" menekankan pentingnya makna dan tujuan hidup dalam membangun resiliensi.
Dalam konteks Islam, doa bukan hanya sarana meminta pertolongan, tetapi juga cara untuk meneguhkan makna dan tujuan hidup kita sebagai hamba Allah. Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
Ibadah, termasuk doa, menjadi sumber kekuatan dan ketahanan bagi seorang Muslim dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Doa dan Quantum Physics
Beberapa ilmuwan telah mencoba menjelaskan fenomena doa melalui teori quantum physics. Dr. Amit Goswami, seorang fisikawan quantum, dalam bukunya "The Self-Aware Universe" mengemukakan gagasan bahwa kesadaran adalah dasar dari semua realitas.
Meskipun teori ini masih kontroversial
dalam komunitas ilmiah, ia mengingatkan kita pada konsep "Kun
Fayakun" dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Yasin ayat 82:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia."
Ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah yang mutlak atas realitas, sesuatu yang masih menjadi misteri bagi ilmu pengetahuan modern.
Penutup
Hadirin yang dirahmati Allah,
Doa adalah anugerah luar biasa yang Allah
berikan kepada kita. Ia bukan hanya sarana komunikasi dengan Sang Pencipta,
tetapi juga sumber kekuatan, ketenangan, dan petunjuk dalam hidup kita. Melalui
doa, kita mengakui kelemahan kita sebagai makhluk dan meneguhkan keyakinan kita
akan kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam
kitabnya "Ad-Daa' wa Ad-Dawaa'" mengatakan:
الدعاء من أنفع الأدوية، وهو عدو البلاء،
يدافعه ويعالجه، ويمنع نزوله، ويرفعه أو يخففه إذا نزل، وهو سلاح المؤمن
"Doa termasuk obat yang paling
bermanfaat. Ia adalah musuh bala, menolaknya, mengobatinya, mencegah turunnya,
mengangkatnya atau meringankannya jika telah turun. Doa adalah senjata orang
mukmin."
Mari kita jadikan doa sebagai bagian tak
terpisahkan dari kehidupan kita. Berdoalah dengan keyakinan penuh akan
pengabulan Allah, namun tetap dengan kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui apa
yang terbaik untuk kita. Ingatlah selalu firman Allah dalam Surah Al-Baqarah
ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي
وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita
untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu berdoa dan berusaha, serta menerima
dengan penuh kerelaan atas segala ketentuan-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
Wallahu a'lam bishawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar