Kamis, 14 Juli 2022

Buruknya Prasangkamu Menunjukkan Buruknya Perilakumu

Sū'udzan atau berprasangka buruk terhadap orang lain, merupakan penyakit hati, hampir semua orang pernah terjangkit olehnya. Ketika melihat tetangga diberi rezeki kekayaan, bisa membeli mobil mewah, dan membangun rumah megah, lalu terbesit dalam hati, “Ah, mungkin dia kaya dari hasil korupsi atau pesugihan.” Ketika melihat seseorang menampakkan sedekahnya, muncul dalam hati, “Ah, sedekah kok dipamerin, itu-mah riya, gak bakal diterima Allah.” Atau mungkin ketika melihat orang kaya melaksanakan haji berkali-kali, timbul persangka dalam hati, “Ngapain haji berkali-kali, mending hartanya untuk sedekah fakir miskin.” Begitulah setan selalu berhasil membisikan prasangka-prasangka buruk yang jauh dari kebenaran tanpa kita sadari.

Prasangka buruk muncul terkadang karena rasa hasad atau iri terhadap kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain, sehingga hati yang iri cenderung selalu melihat sisi negatif dari orang lain, dan menafikan kemungkinan nilai positif dari orang itu. 

Seperti ketika seseorang melihat tetangga yang bisa membeli mobil mewah, sebenarnya bisa saja hatinya melihat dari sisi positif dan berprasangka baik. Mungkin saja mobilnya merupakan hadiah dari atasannya karena prestasi kerjanya, tapi karena hatinya terjangkit hasad. Maka, dia hanya melihat dari sisi negatif saja, lalu berprasangka buruk, “Ah, paling ia beli mobil itu dari hasil penggelapan dana...” Atau ketika melihat orang kaya haji setiap tahun, hati yang bersih akan berprasangka baik, “Mā syā Allah, dia bisa haji setiap tahun, pasti dia orang yang rajin sedekah kepada fakir miskin sehingga Allah selalu menambah rezeki kepadanya...”, tapi hati yang sakit malah berprasangka, “Daripada haji setiap tahun lebih baik hartanya digunakan untuk sedekah” sehingga prasangkanya memberi anggapan seolah dia tidak suka sedekah.

Prasangka buruk yang muncul dalam hati bisa jadi juga karena memang buruknya perilaku atau perangai kita. Seorang penyair  Abu Thayyib al-Mutanabbi’ pernah mengatakan,

إِذا ساءَ فِعلُ المَرءِ ساءَت ظُنونُهُ
“Apabila perilaku seseorang buruk maka prasangkanya pun akan buruk”

Seperti orang kafir atau munafik yang mengatakan, “ Muhammad tidak bisa mengendalikan syahwatnya sehingga dia kawin terus tidak cukup satu isteri.” Nyatanya ia sendirilah yang selalu dipenuhi syahwat, terbiasa melakukan zina lebih kepada satu wanita, lalu menarik standar prilaku Rasulullah Saw. kepada perilaku buruknya, padahal Rasulullah Saw. adalah makhluk suci yang ma’sum, yang mana tidaklah beliau melaksanakan sesuatu melainkan itu memang diwahyukan kepadanya.

Maka, waspadalah ketika anda su’udzan kepada orang lain, bisa jadi prilaku andalah sebenarnya yang buruk, sehingga Prasangka buruk itu muncul karena anda menarik standar prilaku orang lain kepada prilaku buruk anda. 

Ketika berprasangka buruk kepada orang yang rajin bersedekah, menganggap dia melakukannya karena riya, bisa jadi andalah sebenarnya yang suka riya dalam bersedekah, sehingga menyamakan standar prilaku orang lain yang mungkin saja dia benar-benar ikhlas bersedekah, kepada prilaku anda yang terbiasa riya. Karena urusan hati hanya Allah yang tahu, tidak ada hak bagi kita menebak-nebak hati seseorang, justru mukmin sejati seharusnya selalu berbaik sangka kepada saudaranya.

Allah Swt. Berfirman,
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..” (QS. Al-Hujurat: 12)

Rasulullah Saw. Bersabda,
إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث

“Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan” (HR. Bukhari)

Syaikh ‘Āli Sāyis mengatakan dalam tafsir ayat ahkam beliau, bahwa berburuk sangka hanya terlarang terhadap orang yang secara zahir baik atau saleh, adapun orang yang terang-terangan berbuat buruk, maka tidak dilarang apabila berburuk sangka padanya.

Sabtu, 02 April 2022

Di bulan Ramadan setan dibelenggu, kenapa masih ada yang bermaksiat?

Euforia kaum mukmin menyambut bulan Ramadan begitu luar biasa, karena di bulan ini Allah menaikan derajat orang mukmin, dengan disiapkannya pintu surga khusus orang berpuasa bernama ar-Rayān dan dilipat gandakannya pahala. Setiap amal saleh dilipat gandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, Allah sendiri yang yang akan memberikan balasan pahalanya.

Ketika Allah merahasiakan balasan pahala puasa, seakan terdapat isyarat bahwa pahala puasa itu begitu besar tak terhitung, sehingga Allah tak menentukan jumlah pahalanya. Tapi puasa seperti apa yang dijanjikan pahala luar biasa itu? Yaitu puasanya orang yang tidaklah dia menahan rasa lapar, dahaga, dan dorongan nafsu syahwatnya melainkan karena beriman kepada Allah, dan hanya semata-mata mengharapkan rida dari-Nya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallāhu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Muslim, "Setiap satu amal kebaikan manusia dilipat gandakan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, 'Kecuali puasa, karena sesungguhnya itu untuk-Ku, tidaklah seseorang meninggalkan syahwat dan makanannya melainkan karena-Ku.'"

Diantara kemuliaan Ramadan yang membuat orang mukmin bahagia dan bersemangat dalam beribadah, yaitu karena di bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan dibelenggu. 

Seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari, bahwa Rasulullah Shalallāhu 'alaihi wassalam bersabda, "Apabila datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, dan pintu-pintu neraka dikunci, dan setan-setan dibelenggu." 

Nah, mungkin terlintas dibenak kita, kenapa di bulan Ramadan masih saja ada orang bermaksiat, mabuk, maling, zina, gibah, dan nyinyirin orang, padahal "para setan dibelenggu?" 

Syaikh 'Izuddin bin 'Abdi as-Salām, dalam kitab "Maqāshid al-Shaum" menjelaskan maksud hadis Rasulullah Shalallāhu 'alaihi yang mengatakan "para setan dibelenggu" hanya merupakan istilah saja mengenai keputus asaan setan di bulan Ramadan, karena di bulan mulia ini, seluruh mukmin diwajibkan berpuasa, dan bulan ini juga memiliki banyak keutamaan yang memantik semangat orang-orang beriman saling berlomba dalam beramal saleh, ibadah, dan menjauhi kemaksiatan. Sehingga karena itulah, Setan berputus asa sampai berhenti dalam mengganggu manusia. 

Dalam "Hāsyiyah Al-Sindi 'ala Sunan 'ibni Majah", dijelaskan bahwa dibelenggunya setan di bulan Ramadan tidak berarti juga kemaksiatan tidak ada, karena kemaksiatan tidak mesti semua datang dari godaan setan, akan tetapi bisa juga muncul dari kuatnya dorongan nafsu yang keji. Karena kalau seandainya semua kemaksiatan berasal dari godaan setan, berarti setan yang selalu bermaksiat disebabkan godaan setan juga. Padahal bukan seperti itu, melainkan karena dorongan hawa nafsunya sendiri. Sebagaimana Iblis bapaknya para setan bermaksiat kepada Allah karena dorongan nafsunya sendiri bukan karena godaan setan yang lain.

Maka, jangan aneh ketika bulan Ramadan ternyata masih ada orang yang bermaksiat, di media masih ada berita mengenai tindak kriminal, padahal Rasulullah Shalallāhu alaihi wasallam bersabda bahwa di bulan ini setan dibelenggu. Akan tetapi kemaksiatan itu muncul karena seseorang tidak mampu mengendalikan nafsunya, sehingga puasanya hanya sekedar menahan lapar dan haus. 

Semoga di bulan Ramadan ini kita diberikan keistiqamahan dalam beramal saleh, dan diberi kekuatan dalam mengendalikan hawa nafsu, sehingga mampu menyalurkannya kepada ketaatan bukan kemaksiatan.