Minggu, 19 Desember 2021

Agar dosa zina diampuni, haruskah dicambuk atau dirajam?

Remaja, masa yang penuh gelora asmara, penasaran dengan banyak hal, semua serba ingin dicoba tak pandang apakah itu baik atau buruk, halal ataukah haram? Di masa ini syahwat pun sedang memuncak, karena alat reproduksi sudah mulai bekerja hormon pun sedang tinggi-tingginya. Maka, tak ayal pada masa ini ketika seseorang menemukan setitik saja perantara yang dapat memuaskan segala gelora syahwatnya bisa dengan mudah terjerumus pada perzinaan, dan masalahnya di zaman modern ini banyak sekali wasilah yang mengantarkan pada kemaksiatan.

Bertebaran di sosmed bagaimana mengumbar aurat dianggap sebagai gaya, bermesraan tanpa ikatan pernikahan dianggap biasa, hamil duluan tinggal kawinkan saja. Padahal zina bukanlah hal sepele, sehingga dalam Islam hukumannya pun sangat berat, bagi yang masih lajang dicambuk seratus kali, dan pezina yang balig, berakal, dan sudah menikah hukumannya adalah rajam yaitu dikuburnya sebagian tubuh dan dilempari dengan batu sampai mati.

Tentu hukuman yang berat ini disebabkan 
karena zina merupakan salah satu dosa besar, Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isra’: 32)

Nabi shalallahu alaihi wasallam juga bersabda, “Ada tiga golongan (manusia) yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih, yaitu; Orang tua yang berzina, raja yang pendusta (pembohong) dan orang miskin yang sombong”(HR. riwayat Muslim)

Menurut Imam Ibn Qayyim, alasan lain mengapa hukuman zina ini begitu berat, karena mengakibatkan hancurnya kehidupan umat manusia, menghilangkan hubungan nasab dan silsilah manusia serta menimbulkan penyakit sosial yang kotor dan keji.

Tidakkah kita lihat bagaimana zina ini bisa membuat wanita tega menggugurkan kandungannya, menjadikan anak tak jelas nasab ayahnya, membuat keluarga menanggung rasa malu dan hina, begitu pula bukan tidak mungkin azab zina ini berimbas pada masyarakat sekitarnya.
Ketika mengetahui hukuman dari zina ini adalah cambukkan atau rajam, timbul pertanyaan, bagaimana kalau seorang pernah berzina dan ingin bertobat, apakah perlu dia memberitahukan perbuatan kejinya itu dan menerima hukuman agar Allah mengampuninya?

Dalam hal ini, menurut Syaikh Azhar ‘Athiyyah Shaqr rahaimahullah, bagi pelaku zina hendaklah untuk menutupi aibnya dan tidak mengumbarnya, tidak perlu baginya memberitahu seseorang supaya dia dijatuhi hukuman cambuk atau rajam agar dosa zinanya bisa diampuni oleh Allah. Maka, cukup baginya melakukan tobat nashûha, karena ini sebaik-baik wasilah baginya agar dosanya diampuni. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang pernah terjerumus dalam perbuatan kotor ini (zina) hendaklah dia menutupinya dengan sitr (penutup) Allah, karena sungguh siapa saja yang menampakkan rahasianya, pasti akan kami jatuhkan hukuman baginya.” (HR. Malik dalam kitab al-Muwatha’).

Dalam riwayat Daud, Ma’iz pernah dilaporkan berzina oleh Huzal kepada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, dan Ma’iz membenarkannya lalu dijatuhilah ia hukuman rajam. Nabi berkata kepada kepada Huzal, “Sendainya kau tutupi dia dengan bajumu (merahasiakannya) niscaya lebih baik bagimu.” Maka, dapat disimpulkan dari riwayat ini bahwa menutup aib orang lain dan aib sendiri begitu disyariatkan. Karena mengumbar aib sendiri merupakan karakter mujâhir (orang yang suka mengumbar aib tanpa malu) yang mana ancaman orang seperti ini adalah Allah tidak akan mengampuni dosanya, wal ‘iyâdzu billâh.

Bagi yang pernah terjerumus dalam zina, jangan berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah, berhusnuzanlah bahwa Dia akan mengampuni dosa kita, dengan syarat kita benar-benar menyesal dan mengakui atas dosa yang pernah diperbuat, dan beritikad tidak akan mengulanginya lagi, dan mulai memperbaiki diri.

Semoga Allah jaga kita dan keluarga kita semua dari perbuatan keji ini, dan mengampuni dosa kita.

Jumat, 07 Mei 2021

Jangan Sampai Dosamu Tidak Diampuni Allah

Setiap muslim pasti selalu mengharapkan ampunan Allah, bahkan seburuk-buruk pendosa pun, kalau ditanya, "Mau gak semua dosamu Allah ampuni?" Jawabannya pasti mau. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Siapa yang tidak mau badannya dibersihkan dari keringat, kotoran, bahkan bau busuk yang melekat pada dirinya, begitu pun pendosa, dia selalu mengharapkan ampunan Allah. Tapi sayangnya, seseorang kadang lupa untuk menutup aib, dan keburukannya sendiri, berbuat maksiat lalu diceritakan kepada kawan-kawannya dengan tanpa malu dan perasaan bersalah. Kalau seperti itu jangan harap Allah akan menutup aibmu dan mengampuni dosamu, karena kau sendirilah yang telah merobek hijab-Nya. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kalau kita memberikan baju pada orang yang telanjang, tapi dia malah merobek dan membuangnya maka pasti kita akan kesal dan marah. Tidak kah Allah juga akan murka kepada kita ketika Allah menutup kesalahan kita, lalu dengan santai kita membicarakannya kepada orang-orang? Maka kalau begitu jangan harap Allah akan mengampuni dosa kita. Akibat apabila setiap orang tidak merasa malu lagi menceritakan dosanya, akan menjadikan maksiat itu hanya perkara yang biasa, sehingga semua orang menganggap enteng berbuat dosa, maka disanalah bahayanya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Karena itu dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
 كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ، فَيَقُولَ : يَا فُلَانُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
"Semua umatku diampuni kecuali orang-orang pengumbar (aib sendiri), sungguh buruk seseorang yang melakukan kesalahan dimalam hari, lalu di pagi hari setelah Allah menutup kesalahannya , dia mengatakan: Wahai Fulan, aku telah berbuat (dosa) begini dan begitu semalam tadi. Padahal Tuhannya telah menutup aibnya, sedangkan dia malah membuka hijab yang Allah berikan padanya.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Cukuplah kau dan Tuhanmu yang tahu atas aibmu selama dosa itu tidak berdampak mudarat bagi orang lain. Jangan hiraukan mereka yang mengatakan kamu munafik lah, sok alim lah, karena memang begitulah seharusnya, kalau kita mengharapkan ampunan Allah. Munafik adalah orang yang menyembunyikan kekufuran dalam jubah keislaman, sedangkan orang yang menyembunyikan dosanya karena malu pada Allah lalu menyesal dan bertobat maka dia bukanlah munafik.⁣⁣⁣

Kamis, 07 Januari 2021

Berhentilah Membandingkan Diri Kita dengan Orang Lain

“Kubuka media sosial rasanya semua orang begitu bahagia dengan apa yang mereka punya, wajah yang tampan dan cantik, karier yang melejit di usia muda, tas, sepatu, dan pakaian yang serba baru dengan brand mahal, bisa jalan-jalan keluar negeri. Semuanya begitu mudah mereka dapat, lalu kutatap diriku hanya seorang yang tak berarti, kucoba untuk meraih seperti apa yang mereka dapat, tapi semuanya terasa sia-sia, hanya lelah saja yang kurasa.”

Tidak sedikit orang yang berpikir seperti itu, melihat sekelilingnya dengan kaca mata dunia, membandingkan dirinya dengan orang lain lalu mulai menyalahkan nasibnya. Begitulah manusia, sampai Allah menyinggung dalam Al-Qur’an,

 “... sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat.” (QS. Al-Haj: 66). Dia juga berfirman, “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya." (QS. Al-'Adiyat : 6).

Ulama menafsirkan kata ingkar di sana bahwasanya manusia cenderung selalu menghitung kesusahan dan musibah yang ia derita, lalu dengan mudah melupakan segala nikmat yang Allah limpahkan padanya. Padahal, derita yang ia rasa baru setitik dari sekian juta kenikmatan yang pernah Allah berikan padanya, dan bisa jadi musibah yang ia rasakan itu adalah sebab yang dapat mengantarkannya pada kebaikan. Seorang mukmin yang paripurna tak pernah memandang segala sesuatu melainkan semuanya adalah kebaikan, dalam surat An-Nahl Allah berfirman,

“Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘kebaikan’.” (QS. An-Nahl: 30).

Orang bertakwa selalu memandang apa yang Allah turunkan berupa kesehatan, sakit, kesenangan, kesusahan, rasa galau, ketakutan, dan kesedihan, semuanya adalah kebaikan .

Hati apabila sudah dipenuhi rasa gundah dan galau terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain, lalu mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dalam urusan dunia, tidak akan memberikan apa-apa selain hanya menghabiskan umur pada hal yang sia-sia dan merugikan diri sendiri. Sehingga ruang hati hanya akan dipenuhi hawa negatif, dan tidak ada lagi celah untuk mengingat Allah. Tatkala hati semakin jauh dari sang Pencipta hanya akan semakin menjerumuskan kita pada kesedihan dan kepedihan yang semakin mendalam.

Sebaliknya, orang yang selalu menerima segala pemberian Tuhannya, tenggelam dalam mengingat karunia dan nikmat Allah, dan sadar rezekinya tidak akan tertukar, apa yang menjadi haknya tidak akan mungkin Allah memberikannya pada orang lain, begitu pun sebaliknya apa yang menjadi hak orang lain tidak akan mungkin menjadi miliknya. Musibah yang menghampiri hanya merupakan pemantik agar lebih khusyuk dan lebih merendahkan hati lagi untuk memohon pada sang Khalik, karena orang beriman paham akan firman Allah,

 “....kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An'am: 42)

Hidup di dunia ini tak akan terlepas dari dua ujian, kenikmatan dan kesengsaraan. Tujuan daripada ujian itu agar kita bisa kembali pada Allah, kembali mengingat bahwa semuanya hanya pemberian dari Allah, dan kita sama sekali tidak memiliki apa-apa, tak berhak sombong atau over proud dengan apa yang kita punya. Tatkala diuji dengan hal yang indah, kendaraan mewah, dan harta melimpah, Allah ingin tahu apakah kita akan bersyukur pada-Nya atau kufur. Sama halnya ketika Allah menguji kita dengan kesengsaraan, di sanalah Dia ingin mengecek seberapa besar kesabaran dan ketabahan kita padan-Nya. Orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan senang, maka tatkala susah Allah pun akan mengingatnya, dan tak akan pernah membuat hamba-Nya itu bersedih. Seandainya nabi Yunus sebelum ditelan paus bukan termasuk orang yang selalu mengingat dan bertasbih pada Allah, niscaya ia akan terperangkap selamanya dalam perut paus itu, dalam Al-Qur’an dikatakan, “Maka sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak berdzikir kepada Allah (sebelum ditelan paus), niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.”

So, tidak perlu resah lagi dengan kekurangan yang kita miliki, membandingkan nasib kita dengan orang lain, karena apa yang kita bayangkan belum tentu seperti apa yang mereka rasakan. Boleh jadi orang bergelimang harta, rumah megah, dan mobil mewah, hatinya dipenuhi ketakutan dan kesedihan, karena kita hanya menilai yang tampak, dan apa yang tersembunyi dalam hati hanya Allah yang tahu. Semua orang tak akan terlepas dari ujian dunia, bedanya orang lain diuji dengan hal yang nikmat, dan kita diuji dengan hal yang buruk menurut pandangan kita. Dan ujian itu akan terus bergulir, di mana akan tiba saatnya kita pun akan diuji dengan kenikmatan, pada akhirnya orang yang pandai bersyukur dan bersabarlah yang akan mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat.