Jumat, 21 Februari 2020

Abu Jahal ketakutan




Suatu ketika, disaat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam hendak melaksanakan shalat di sisi Ka’bah, datanglah Abu Jahal berkata, “Wahai Muhammad! Kalaulah kau berani sujud di sisi Ka’bah ini aku akan menginjak kepalamu''.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak menghiraukannya lalu beliau menghadap Ka’bah untuk shalat, maka Abu Jahal memperingatkan beliau yang kedua kalinya : “hai Muhammad ! kalau kau sampai berani sujud disini, niscaya aku panggil kaum Quraisy agar mereka menyaksikan bagaimana aku menginjak kepalamu”,tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menghiraukannya juga, dan melanjutkan shalatnya,  akhirnya Abu Jahal menyeru kaum Quraisy, maka disaat Beliau sujud, Abu Jahal mulai melangkahkan kakinya, tetapi ketika hendak mendekati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, seketika diam tercengang tak bisa bergerak, lalu diapun berbalik, maka kaum Quraisy dengan heran bertanya, “ apa yang terjadi denganmu Abu jahal? Kenapa kau tak jadi menginjak kepalanya dan malah berbalik?”

Abu Jahal menjawab: “kalaulah kalian melihat apa yang aku lihat pasti kalian akan menangis darah."

Kaum Quraisy bertanya, “memangnya apa yang kau lihat?”

“Sungguh diantara diriku dan Muhammad terdapat penghalang parit yang terbuat dari api dan juga sayap sayap.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kalaulah Abu jahal sampai melakukan aksinya niscaya Malaikat akan menyiksanya secara nyata”

Dalam tafsir ayat:

Disaat Abu Jahal memanggil kaum Quraisy sebagaimana firmanNya :  (فليدع نادية) maka Allah SWT langsung menjawab: “kalau kau mengumpulkan kaum Quraisy, maka AKU akan mengumpulkan para Malaikat Azab untuk mencegahmu, sebagaimana firmanNya:

"سندع الزبانية"

maka Allah pun berseru pada RasulNya: “bersujudlah jangan kau hiraukan dia,  AKU yang akan menjagamu sebagaimana firmanNya: "كلا لا تطعه واسجد واقترب"

( ربنا آتنا في الدنـيا حسنة ، وفي الآخرة حسنة ، وقنا عذاب النار)

اللهم صل أفضل الصلاة على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم..!!!

Kaum Atheis tak berkutik terhadap pertanyaan Imam Abu Hanifah


Imam Abu Hanifah sering melakukan diskusi dan perdebatan dengan kaum Ateis. Sehingga dampak dari itu, pada suatu hari tatkala beliau sedang berada di majelisnya, tiba-tiba didatangi sekelompok kaum Ateis yang membencinya, dengan membawa pedang terhunus berniat ingin membunuhnya. Akan tetapi Abu Hanifah tetap tenang meskipun keadaannya saat itu sedang genting dan berkata, “jawablah pertanyaanku terlebih dahulu, lalu lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan terhadapku!”

Sekelompok Ateis itu menjawab, “Oke, sebutkan pertanyaanmu itu!"

Imam Abu Hanifah berkata, “Apa pendapat kalian terhadap seseorang yang mengatakan sungguh aku melihat sebuah kapal yang membawa banyak muatan yang berat diatas lautan lepas yang diterjang oleh gulungan ombak dan tiupan angin yang silih berganti. Akan tetapi, kapal itu tetap bisa terkendali dan seimbang di lautan tanpa ada suatu apapun yang melindunginya dan seorang Nakhoda pun yang mengendalikannya? Apakah itu masuk akal ?!” Mereka menjawab, “Tidak, itu sama sekali tak masuk akal.”

Imam Abu Hanifah pun berkata, “Berarti Maha Suci Allah! Kalaulah sebuah kapal saja begitu tak masuk akal tatkala ia berjalan seimbang diatas lautan lepas tanpa sesuatu yang melindunginya dan Nakhoda yang mengendalikannya. Maka bagaimana bisa Dunia ini dan segala isinya yang beraneka ragam, keadaan alam yang silih berganti, serta keajaiban lainnya terbentuk dengan sendirinya tanpa ada yg menciptakan dan mengaturnya?!! Sekelompok Ateis itu pun tak berkutik dan hanya mengatakan, “kau benar Wahai Abu Hanifah.”
     

Apakah kau bisa melihat Allah?


Siapa yang tak kenal Imam besar madzhab Abu Hanifah, selain dikenal sebagai ulama fiqih beliau juga adalah seorang pemikir yang hebat yang mampu membungkam pertanyaan kaum Atheis yang selalu meminta jawaban berlandaskan logika, maka mari kita simak sepenggal kisah Imam Abu Hanifah dengan seorang Atheis !

Suatu ketika datang seorang Atheis menemui Abu Hanifah dan bertanya,  “Wahai Imam apakah kau bisa melihat Tuhanmu ?” berkata Abu Hanifah, “Maha Suci Allah yang tidak bisa dilihat oleh mata”. Orang atheis pun melontarkan pertanyaan lagi, “apakah kau bisa mendengar-Nya? Apakah kau bisa merasakan-Nya? Apakah kau bisa mencium-Nya? Dan apakah kau bisa menyentuh-Nya?"

Imam Abu Hanifah berkata, “Maha Suci Allah yang tiada suatu apapun serupa denga-Nya, yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

“kalau kau tak mampu melihat-Nya, merasakan-Nya,  Mencium-Nya, dan juga menyentuh-Nya bagaimana bisa Dia dikatakan ada?” tanya si Atheis tersenyum, menganggap Imam Abu Hanifah takan mampu menjawabnya.

Lalu Imam Abu Hanifah balik bertanya, “apakah kau mampu melihat akalmu?” Kata si Atheis, ”Tidak”. “apakah kau bisa merasakan akalmu?” Tidak. Jawab si Atheis. “apakah kau bisa mendengarkan dan menyentuh akalmu ?” “tidak”. Jawabnya lagi. Imam Abu Hanifah lalu melontarkan pertanyaan “apakah kau berakal atau gila?” Atheis itu sontak menjawab “saya berakal!” lantas dimana akalmu? Tanya Imam. Jawab Atheis, “akal saya ada wahai Imam.”

Lalu Imam Abu Hanifah berkata, “begitu juga Allah Maha Ada. Dia diatas segala sesuatu dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu tidak seperti sesuatu yg berada pada suatu perkara, dan tiada suatu perkarapun yang serupa dengan Dia, yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Ya Allah jadikanlah kami hamba yang pemaaf

 Sudah menjadi tabi'at manusia tatkala dia disakiti, dkhianati, atau dizolimi, timbul keinginan kuat dalam hatinya untuk bisa membalas orang yang pernah menyakitinya.
Dari sana timbulah rasa jengkel, amarah, bahkan dendam kesumat yang dapat mengotori hati, dan merupakan penyebab cikal bakal timbulnya permusuhan dan pertikaian yang tiada habisnya. 

Memang, dibenarkan dalam Islam bagi seorang yang merasa dirinya didzolimi untuk membalas keburukanya dengan setimpal tidak lebih dari itu, tetapi Allah juga  berfirman, " ..barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya disisi Allah..." Lalu apakah pernah kita renungkan mengapa "memaafkan" itu lebih baik sehingga Allah menjanjikan pahala dimana kadarnya hanya Dia yang tahu, itu berarti menunjukkan besarnya  pahala memaafkan. Lantas apa yang menjadikan memaafkan begitu istimewa?

 Al-'Alim Al-Faqih Sayidi Ahmad bin Idris dalam kitabnya "Kimia al-yaqin" mengatakan, "Allah SWT dalam firman-Nya,

 (وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ..)

'Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal..'
-Surat Asy-Syura, Ayat 40-

 Dia menjadikan pembalasan dari suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, perlu diketahui membalas keburukan dengan yang setimpal itu merupakan perkara yang sulit bahkan mungkin mustahil. Bayangkan saja bagaimana bisa seseorang yang diliputi amarah, tatkala dia didzolimi bisa mengukur apakah dia bisa membalas keburukan setimpal dengan apa yang ia sama percis rasakan dari rasa sakit dan kepedihan yang diderita.

Ketika  kita mengetahui pembalasan setimpal itu sulit untuk ditegakkan, lantas mengapa Allah mensyaratkan pembalasan keburukan harus setimpal? Maka disini Allah sebenarnya ingin mengisyaratkan hendaknya kita mengutamakan "memaafkan daripada membalas keburukan dengan keburukan"

Seakan Allah mengatakan,

" Apabila kau tidak mampu mengambil hakmu dengan membalas keburukan yang setimpal (tidak lebih dari itu) maka tidak halal bagimu membalasnya, sungguh lebih baik bagimu bertemu dengan Allah (di hari pembalasan nanti) dalam keadaan terdzolimi daripada dalam keadaan kau berbuat dzolim (karena membalas keburukan orang yang mendzolimi mu secara berlebihan)."

Maka hukum membalas keburukan ini menjadi sesuatu yang wajib ditinggalkan, karena tidak terpenuhinya suatu syarat (pembalasan setimpal) mewajibkan untuk meninggalkan hal yang disyaratkan
(membalas keburukan).

 Memaafkan merupakan sikap yang berat maka tak ayal Allah menyiapkan pahala besar bagi yang mampu melakukannya. Kebanyakan orang biasanya hanya mampu memaafkan di dunia saja dengan tidak membalas keburukan itu dengan keburukan serupa, tapi dalam hatinya masih ada harapan semoga Allah membalas keburukan si pendzolim.

 Lain halnya dengan keluhuran akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, yang Allah bersihkan hatinya dari kotoran-kotoran amarah kebencian dan dendam, yang mampu memaafkan di dunia bahkan malah mendoakan si pendzolim dengan limpahan kebaikan dan itu merupakan derajat tertinggi dari para Rasul.

 Maka dapat disimpulkan, seseorang hanya memiliki 2 pilihan ketika disakiti : meninggalkan pembalasan keburukan dengan keburukan di dunia, tetapi masih meminta haknya di akhirat nanti, yang kedua memaafkan secara penuh sehingga mendapatkan ganjaran pahala disisi Allah dan menjadi pewaris akhlak Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dan perlu dipahami tanpa diminta pun Allah pasti akan memperlakukan seorang hamba sebagaimana hamba itu memperlakukan sesamanya didunia selaras dengan firman-Nya:
   
 "..سَيَجۡزِيهِمۡ وَصۡفَهُمۡۚ .."

"...Kelak Allah akan membalas atas ketetapan mereka..."
-Surat Al-An'am, Ayat 139-

Manusia biasa takan pernah luput dari salah, sehingga tanpa dia rasa sudah berapa hati yang tersayat oleh ucapannya, berapa air mata yang keluar dikarenakan perilakunya, berapa luka yang telah ia berikan pada saudaranya, tanpa disadari atau tidak dia berada pada posisi pendzolim, tapi tatkala dirinya didzolimi dengan luapan hawa nafsu ia berharap si pendzolim disiksa dengan seberat-beratnya, padahal disisi lain orang yang pernah ia dzolimi mungkin tak jauh beda mengharapkan hal serupa padanya.

     Dalam hadits qudsi Allah berfirman : " wahai hamba-Ku kau berdoa agar Aku membalas orang yang mendzolimi mu, sedangkan disisi lain orang yang pernah kau dzolimi juga berdoa agar Aku membalas (keburukan)mu, maka kalau kau mau Aku kabulkan doamu dan Ku kabulkan doa yang kau dzolimi untuk membalasmu (seketika itu) dan kalau kau mau (memaafkan) Aku tangguhkan kalian berdua sehingga mendapa rahmat-Ku." Maka orang yang memaafkan akan dimaafkan, dan orang yang mengampuni maka akan diampuni.

  Disebut juga mengapa pembalasan suatu kejahatan adalah kejahatan, karena kejahatan itu akan berbalik pada pelakunya. Di hari kiamat nanti Malaikat menyeru,

"hendaknya menghadap orang yang memiliki ganjaran pahala disisi Allah dan masuklah ke dalam surga tanpa hisab",  maka seketika orang-orang bertanya :

"siapakah orang yang memiliki ganjaran pahala disisi Allah itu ?", lalu dikatakan pada mereka,

 " yaitu orang-orang yang memaafkan sesamanya, maka dengan begitu berdirilah tujuh puluh ribu orang memasuki surga tanpa hisab, tidak ditegakkan bagi mereka timbangan amal dan tidak disebarkan pada mereka catatan amal, dikarena Allah telah mengampuni kesalahan mereka, maka orang yang tidak bisa memanfaatkan sesamanya ketika melihat hal ini menyesal dan hanya bisa menggigit jari tangannya, tapi sayang penyesalan saat itu sudah tiada guna.

 Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang pemaaf, sehingga Allah berkenan untuk mengampuni semua kesalahan kita. Aamiin..!