“Orang yang takut akan kefakiran, sebenarnya dia telah jatuh dalam kefakiran itu, dan orang yang cemas akan terperosok ke dalam hal yang menakutkan, maka dia sebenarnya telah terperosok ke dalam ketakutan itu.”
(Sayidina Ali r.a)
Problematika hidup yang datang silih berganti tiada henti, membuat manusia seakan tak bisa lepas dari rasa cemas dan takut. Seperti kecemasan pemimpin terhadap nasib jutaan rakyatnya, sepasang suami istri yang cemas menantikan diberinya keturunan, dan orang tua yang mencemaskan akan nasib masa depan anaknya. Begitu juga seorang pedagang yang cemas barang dagangannya tak laku, seorang jomblo yang begitu cemas dalam penantiannya menemukan pasangan hidup, sampai seorang mahasiswa pun bisa dihinggapi rasa cemas dan takut akan nasibnya nanti selepas sarjana.
Pikiran liar serba takut terhadap segala sesuatu yang akan datang, padahal yang ditakutkan itu belum tentu terjadi, akan terus merambat membakar akal jernih manusia yang dipicu oleh percikan api kecemasan yang berlebihan, sehingga pada suatu saat akan menjadi bom waktu bagi dirinya. Karena dari rasa takut dan cemas yang berlebihan akan menjadikan seseorang over thinking , pada akhirnya bisa menimbulkan kerugian bagi dirinya dan juga orang di sekitarnya cepat atau lambat.
Maka tidak aneh, di berita pernah dikabarkan, ada orang tua tega membunuh anaknya yang masih bayi, hanya karena takut dia tidak bisa membahagiakan anaknya, dan khawatir bayi itu tatkala dewasa akan menanggung susahnya hidup seperti dirinya. Dan juga berita mengenai seorang sarjana yang stres dan menjadi gila, karena tak kunjung mendapat pekerjaan, setelah dirinya mencoba berkali-kali mengajukan lamaran dan ditolak. Adapun yang lebih menggemparkan lagi, kabar tentang sekelompok masyarakat yang melakukan bunuh diri secara masal, setelah mendengar ucapan dari peramal bahwasanya mereka akan menghadapi kiamat pada bulan sekian dan tahun sekian, sehingga membuat mereka diliputi kecemasan luar biasa, akhirnya nekat bunuh diri. Padahal apa yang mereka cemaskan belum tentu terjadi, bahkan mungkin tidak terjadi sama sekali.
Sebenarnya, tak masalah merasa takut ataupun cemas, selama itu tidak over, karena rasa cemas bagian dari fitrah manusia.
Kecemasan yang sewajarnya memunculkan kesigapan diri dalam menghadapi problem yang akan datang. Seorang pelajar yang merasa cemas, takut tidak lulus dalam ujian di sekolahnya, akan membuatnya bersungguh-sungguh dalam belajar, supaya bisa menjawab soal ujian yang akan dihadapi sehingga bisa lulus dengan predikat terbaik. Seorang suami yang mencemaskan keadaan istrinya yang sedang hamil, akan memicunya untuk bekerja keras supaya mampu membiayai persalinan dan pengobatan istrinya, sehingga bisa melahirkan dengan selamat.
Namun, rasa cemas yang berlebihan atau over thinking hanya akan menimbulkan rasa tidak percaya diri, merasa segala apa yang dilakukan tiada gunanya, bahkan yang lebih parah hilangnya keyakinan pada Allah. Padahal Dia Maha Penjamin rezeki, Dia tak akan pernah memberikan suatu ujian melebihi kemampuan hamba-Nya ataupun memberikan masalah tanpa ada solusinya. Allah pasti akan selalu ada untuk kita dan menguatkan kita, tapi masalahnya apakah kita selalu ada untuk-Nya, benar-benar menghamba pada-Nya, dan mengingat-Nya dikala senang ataupun susah. Atau kita melupakan-Nya, sehingga Allah pun lupa terhadap kita, Allah SWT. Berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19).
Obat kecemasan itu adalah yakin pada Allah, bahwa Dia tidak menciptakan kita untuk ditelantarkan, melainkan Dia telah menjamin segalanya untuk makhluk-Nya, tiada suatu binatang melata di muka bumi ini melainkan Allah jamin rezekinya. Takdir perjalanan hidup kita pun sudah Dia atur, lalu mengapa kita harus repot-repot mencemaskan apa yang sudah Allah jamin. Bukankah kita akan merasa tersinggung bahkan mungkin marah, ketika kita menjanjikan sesuatu kepada seseorang, lalu kita jamin bahwa kita akan memenuhi janji itu, tapi ternyata orang itu ragu dan tak mempercayai janji dan jaminan kita? Apalagi Allah yang Maha Penjamin, ketika Dia telah menjamin rezeki dan mencatat alur takdir kehidupan hamba-Nya, lalu kita ragu pada-Nya, terlalu menyibukkan diri dengan mencemaskan masa depan, baik itu karier lah, rezeki lah, ataupun jodoh dan segala hal lainnya yang berkaitan dengan dunia, sehingga lupa akan kewajiban kita beribadah pada-Nya. Bukankah Allah juga pasti murka pada kita?!
Ada suatu kisah mengenai seorang sahabat sekaligus menantu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yaitu Sayidina Ali. Suatu ketika dia didatangi oleh seorang pengemis dan memohon sedekah darinya, lalu Sayidina Ali pun menyuruh pengemis itu untuk menemui istrinya Fatimah, seraya berkata, “Katakan pada istriku, untuk memberimu uang enam dirham yang kusimpan di rumah!” Pengemis itu pun pergi menemui Fatimah dan menyampaikan pesan Sayidina Ali untuknya. Namun, sesampai di sana. Fatimah mengatakan pada pengemis itu, “Sampaikan pada suamiku, bahwa tidak ada lagi uang simpanan kecuali enam dirham ini saja!” Si pengemis pun kembali menemui Sayidina Ali dan memberi tahunya apa yang Fatimah katakan. Lantas Sayidina Ali merespons pengemis itu dengan mengatakan, “kembalilah temui istriku, dan katakan padanya agar dia memberikanmu seluruh enam dirham itu! Karena aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah beriman seorang di antara kalian, sampai dia begitu yakin bahwa pemberian Allah kepadanya melebihi apa yang ia berikan pada orang lain'.” Lalu akhirnya Fatimah pun memberikan enam dirham itu seluruhnya kepada si pengemis tanpa menyisakan sepeser pun.
Setelah kejadian itu, tak selang berapa lama, datanglah seorang lelaki menemui Sayidina Ali memintanya untuk menjualkan unta yang ia miliki. Lalu unta itu pun laku, dan Sayidina Ali mendapatkan laba sebesar enam puluh dirham dari hasil penjualannya. Dia pun pulang menemui istrinya dan memberikan uang itu. Fatimah begitu kaget, karena tak biasanya sang suami membawa uang sebanyak itu. “Dari mana uang ini?” tanya Fatimah heran. “Uang ini adalah janji Allah yang disampaikan melalui lisan Rasul-Nya, yaitu sabdanya, 'bahwa satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat,' bukankah kita tadi bersedekah dengan enam dirham, lalu Allah pun membalasnya dengan enam puluh dirham,” jawab Sayidina Ali dengan senyum merekah.
Begitulah sikap seorang yang yakin akan Tuhannya, tak ada yang ia cemaskan dan takutkan, karena ia yakin bahwa segalanya sudah Allah jamin untuknya. Maka tugas kita sekarang hanya melakukan semaksimal mungkin apa yang kita hadapi hari ini diiringi tawakal kepada-Nya, menebar banyak kebaikan, dan memperbaiki hubungan sesama. Jangan bersedih terhadap apa yang sudah berlalu, karena ia tak akan berulang kembali, dan jangan terlalu mencemaskan hari esok, karena ia belum pasti adanya, bisa jadi ajal menjemput kita sebelum esok hari tiba. Berlarut dalam kesedihan terhadap apa yang sudah berlalu dan terlalu mencemaskan terhadap masa depan, hanya akan menghabiskan waktu yang kita punya pada hari ini, yaitu hari di mana kita benar-benar hidup.


