Sū'udzan atau berprasangka buruk terhadap orang lain, merupakan penyakit hati, hampir semua orang pernah terjangkit olehnya. Ketika melihat tetangga diberi rezeki kekayaan, bisa membeli mobil mewah, dan membangun rumah megah, lalu terbesit dalam hati, “Ah, mungkin dia kaya dari hasil korupsi atau pesugihan.” Ketika melihat seseorang menampakkan sedekahnya, muncul dalam hati, “Ah, sedekah kok dipamerin, itu-mah riya, gak bakal diterima Allah.” Atau mungkin ketika melihat orang kaya melaksanakan haji berkali-kali, timbul persangka dalam hati, “Ngapain haji berkali-kali, mending hartanya untuk sedekah fakir miskin.” Begitulah setan selalu berhasil membisikan prasangka-prasangka buruk yang jauh dari kebenaran tanpa kita sadari.
Prasangka buruk muncul terkadang karena rasa hasad atau iri terhadap kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain, sehingga hati yang iri cenderung selalu melihat sisi negatif dari orang lain, dan menafikan kemungkinan nilai positif dari orang itu.
Seperti ketika seseorang melihat tetangga yang bisa membeli mobil mewah, sebenarnya bisa saja hatinya melihat dari sisi positif dan berprasangka baik. Mungkin saja mobilnya merupakan hadiah dari atasannya karena prestasi kerjanya, tapi karena hatinya terjangkit hasad. Maka, dia hanya melihat dari sisi negatif saja, lalu berprasangka buruk, “Ah, paling ia beli mobil itu dari hasil penggelapan dana...” Atau ketika melihat orang kaya haji setiap tahun, hati yang bersih akan berprasangka baik, “Mā syā Allah, dia bisa haji setiap tahun, pasti dia orang yang rajin sedekah kepada fakir miskin sehingga Allah selalu menambah rezeki kepadanya...”, tapi hati yang sakit malah berprasangka, “Daripada haji setiap tahun lebih baik hartanya digunakan untuk sedekah” sehingga prasangkanya memberi anggapan seolah dia tidak suka sedekah.
Prasangka buruk yang muncul dalam hati bisa jadi juga karena memang buruknya perilaku atau perangai kita. Seorang penyair Abu Thayyib al-Mutanabbi’ pernah mengatakan,
إِذا ساءَ فِعلُ المَرءِ ساءَت ظُنونُهُ
“Apabila perilaku seseorang buruk maka prasangkanya pun akan buruk”
Seperti orang kafir atau munafik yang mengatakan, “ Muhammad tidak bisa mengendalikan syahwatnya sehingga dia kawin terus tidak cukup satu isteri.” Nyatanya ia sendirilah yang selalu dipenuhi syahwat, terbiasa melakukan zina lebih kepada satu wanita, lalu menarik standar prilaku Rasulullah Saw. kepada perilaku buruknya, padahal Rasulullah Saw. adalah makhluk suci yang ma’sum, yang mana tidaklah beliau melaksanakan sesuatu melainkan itu memang diwahyukan kepadanya.
Maka, waspadalah ketika anda su’udzan kepada orang lain, bisa jadi prilaku andalah sebenarnya yang buruk, sehingga Prasangka buruk itu muncul karena anda menarik standar prilaku orang lain kepada prilaku buruk anda.
Ketika berprasangka buruk kepada orang yang rajin bersedekah, menganggap dia melakukannya karena riya, bisa jadi andalah sebenarnya yang suka riya dalam bersedekah, sehingga menyamakan standar prilaku orang lain yang mungkin saja dia benar-benar ikhlas bersedekah, kepada prilaku anda yang terbiasa riya. Karena urusan hati hanya Allah yang tahu, tidak ada hak bagi kita menebak-nebak hati seseorang, justru mukmin sejati seharusnya selalu berbaik sangka kepada saudaranya.
Allah Swt. Berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa..” (QS. Al-Hujurat: 12)
Rasulullah Saw. Bersabda,
إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث
“Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan” (HR. Bukhari)
Syaikh ‘Āli Sāyis mengatakan dalam tafsir ayat ahkam beliau, bahwa berburuk sangka hanya terlarang terhadap orang yang secara zahir baik atau saleh, adapun orang yang terang-terangan berbuat buruk, maka tidak dilarang apabila berburuk sangka padanya.