Kamis, 07 Januari 2021

Berhentilah Membandingkan Diri Kita dengan Orang Lain

“Kubuka media sosial rasanya semua orang begitu bahagia dengan apa yang mereka punya, wajah yang tampan dan cantik, karier yang melejit di usia muda, tas, sepatu, dan pakaian yang serba baru dengan brand mahal, bisa jalan-jalan keluar negeri. Semuanya begitu mudah mereka dapat, lalu kutatap diriku hanya seorang yang tak berarti, kucoba untuk meraih seperti apa yang mereka dapat, tapi semuanya terasa sia-sia, hanya lelah saja yang kurasa.”

Tidak sedikit orang yang berpikir seperti itu, melihat sekelilingnya dengan kaca mata dunia, membandingkan dirinya dengan orang lain lalu mulai menyalahkan nasibnya. Begitulah manusia, sampai Allah menyinggung dalam Al-Qur’an,

 “... sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat.” (QS. Al-Haj: 66). Dia juga berfirman, “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya." (QS. Al-'Adiyat : 6).

Ulama menafsirkan kata ingkar di sana bahwasanya manusia cenderung selalu menghitung kesusahan dan musibah yang ia derita, lalu dengan mudah melupakan segala nikmat yang Allah limpahkan padanya. Padahal, derita yang ia rasa baru setitik dari sekian juta kenikmatan yang pernah Allah berikan padanya, dan bisa jadi musibah yang ia rasakan itu adalah sebab yang dapat mengantarkannya pada kebaikan. Seorang mukmin yang paripurna tak pernah memandang segala sesuatu melainkan semuanya adalah kebaikan, dalam surat An-Nahl Allah berfirman,

“Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘kebaikan’.” (QS. An-Nahl: 30).

Orang bertakwa selalu memandang apa yang Allah turunkan berupa kesehatan, sakit, kesenangan, kesusahan, rasa galau, ketakutan, dan kesedihan, semuanya adalah kebaikan .

Hati apabila sudah dipenuhi rasa gundah dan galau terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain, lalu mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain dalam urusan dunia, tidak akan memberikan apa-apa selain hanya menghabiskan umur pada hal yang sia-sia dan merugikan diri sendiri. Sehingga ruang hati hanya akan dipenuhi hawa negatif, dan tidak ada lagi celah untuk mengingat Allah. Tatkala hati semakin jauh dari sang Pencipta hanya akan semakin menjerumuskan kita pada kesedihan dan kepedihan yang semakin mendalam.

Sebaliknya, orang yang selalu menerima segala pemberian Tuhannya, tenggelam dalam mengingat karunia dan nikmat Allah, dan sadar rezekinya tidak akan tertukar, apa yang menjadi haknya tidak akan mungkin Allah memberikannya pada orang lain, begitu pun sebaliknya apa yang menjadi hak orang lain tidak akan mungkin menjadi miliknya. Musibah yang menghampiri hanya merupakan pemantik agar lebih khusyuk dan lebih merendahkan hati lagi untuk memohon pada sang Khalik, karena orang beriman paham akan firman Allah,

 “....kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An'am: 42)

Hidup di dunia ini tak akan terlepas dari dua ujian, kenikmatan dan kesengsaraan. Tujuan daripada ujian itu agar kita bisa kembali pada Allah, kembali mengingat bahwa semuanya hanya pemberian dari Allah, dan kita sama sekali tidak memiliki apa-apa, tak berhak sombong atau over proud dengan apa yang kita punya. Tatkala diuji dengan hal yang indah, kendaraan mewah, dan harta melimpah, Allah ingin tahu apakah kita akan bersyukur pada-Nya atau kufur. Sama halnya ketika Allah menguji kita dengan kesengsaraan, di sanalah Dia ingin mengecek seberapa besar kesabaran dan ketabahan kita padan-Nya. Orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan senang, maka tatkala susah Allah pun akan mengingatnya, dan tak akan pernah membuat hamba-Nya itu bersedih. Seandainya nabi Yunus sebelum ditelan paus bukan termasuk orang yang selalu mengingat dan bertasbih pada Allah, niscaya ia akan terperangkap selamanya dalam perut paus itu, dalam Al-Qur’an dikatakan, “Maka sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang yang banyak berdzikir kepada Allah (sebelum ditelan paus), niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.”

So, tidak perlu resah lagi dengan kekurangan yang kita miliki, membandingkan nasib kita dengan orang lain, karena apa yang kita bayangkan belum tentu seperti apa yang mereka rasakan. Boleh jadi orang bergelimang harta, rumah megah, dan mobil mewah, hatinya dipenuhi ketakutan dan kesedihan, karena kita hanya menilai yang tampak, dan apa yang tersembunyi dalam hati hanya Allah yang tahu. Semua orang tak akan terlepas dari ujian dunia, bedanya orang lain diuji dengan hal yang nikmat, dan kita diuji dengan hal yang buruk menurut pandangan kita. Dan ujian itu akan terus bergulir, di mana akan tiba saatnya kita pun akan diuji dengan kenikmatan, pada akhirnya orang yang pandai bersyukur dan bersabarlah yang akan mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat.